Cerbung : The Last Time (Tak Ada Jalan Untuk Kembali) - Part 2

18 Maret 2017
09.35
AM
Aku
bersiap untuk menemui gwen, semalam aku mengirimkan pesan padanya dan ia
memintaku datang ke sebuah tempat yang ia tentukan, aku memakai sepeda lamaku
yang sudah lama tak pernah kusentuh, aku mengambilnya dari garasi mobil yang
cukup sesak dengan perabotan yang terlalu banyak di garasi yang sempit ini.
Aku
mengayuh sepedaku dengan kencang keluar dari komplek rumahku untuk melemaskan
otot kakiku yang akhir-akhir ini tak pernah berolahraga lantaran pekerjaan yang
selalu menumpuk bahkan saat weekend pun aku tak bisa sepenuhnya menikmati
liburanku. Rasanya aneh dengan kebiasaanku yang selama ini selalu memakai mobil
untuk menuju kantor, dan kini aku mengayuh sepeda ditengah terik matahari pagi,
tapi untungnya dulu sewaktu aku kuliah aku selalu memakai sepeda dengan
menerobos lalu lintas yang ramai. Ya.. layaknya anak muda lain aku selalu
menginginkan hal baru yang mmembuat adrenalinku terpacu. Aku menerobos
kepadatan mobil-mobil yang tengah melaju, merasakan angin menerpa wajahku
dengan kencang disertai adrenalin yang mengalir begitu kuat ditubuhku. Kurasa
ini sedikit menyenangkan, dibanding pekerjaanku didepan monitor yang menuntutku
tetap berada di mejaku yang penuh sesak dengan komputer dan setumpuk
dokumen-dokumen yang memusingkan fikiranku.
Aku
menghentikan sepedaku dengan menginjak roda belakang dengan kaki kananku, karna
memang disepedaku tak memiliki rem. 5
meter didepanku terlihat seseorang dengan jaket biru dengan tudung. Ia menoleh
kearahku. Ternyata gwen, sepertinya ia sudah lama menungguku, aku melihat
kearah jam tanganku dan terlihat aku terlambat 5 menit.
“Kau terlambat 5 menit” ujarnya
menoleh dan ia menatapku tajam memperlihatkan matanya yang besar. Sepertinya ia
sangat tidak suka dengan keterlambatanku.
“Maaf” kataku. Aku menyadari
keterlambatanku.
“Ingat dalam pekerjaan ini tak ada
kata maaf untuk keterlambatan” katanya, aku hanya mengangguk mengerti. Ia
memberikanku sebuah kartu kecil yang berisi identitasku dan fotoku, juga sebuah
tanda, entah tanda apa itu. Aku menerimanya.
“Identitasmu, tunjukan itu
sebagai bukti kau bagian adalah bike messengger dari kami” ujarnya setelah
memberikan kartu identitas itu padaku.
Ia memberikanku sebuah amplop
kecil berwarna coklat dan berbentuk persegi panjang. Kira-kira berukuran 15x8.
Aku menerimanya. Ini adalah pengantaran pertamaku sebagai bike messengger baru.
Aku bingung, kenapa tak ada kantor untuk bisnis seperti ini, padahal pasti ada
banyak orang yang berminat untuk pekerjaan ini ditambah lagi imbalan yang cukup
besar. Tapi.. sudahlah itu bukan urusanku.
“Alamat sudah kukirim melalui pesan
diponselmu. Lengkap dengan peta. Selama kau menjadi bike messengger kau akan
selalu mengirim keorang yang sama” katanya, aku memeriksa ponselku yang
bergetar.
“Apa ada bike messengger selain
aku?” tanyaku,
“Tentu, mereka juga memiliki
pelanggan tetap sepertimu” jawabnya santai.
“Ok.. ini mudah”
“Berhati-hati, jangan pernah
memberikan paket kepada siapapun kecuali si penerima” ujarnya mengingatkanku.
Aku mengangguk dan memutar
sepedaku kemudian langsung pergi dari hadapannya. Aku mengayuh sepedaku dengan
sangat kencang melewati beberapa mobil yang hanya bisa bergerak sedikit demi
sedikit karna kemacetan parah. Pengalaman yang luar biasa, bekerja dijalanan
tanpa komputer dan bos yang menyebalkan. Mungkin benar kata gwen aku bisa
melepaskan kebosananku dengan pekerjaan ini.
Tak butuh waktu lama untukku
sampai di alamat tujuan, aku masuk sebuah gedung berlantai 25 yang dihuni oleh
klien gwen. Sepertinya ia memang orang yang sangat kaya, buktinya saja dia bisa
membeli apartemen digedung ini yang terkenal dengan harga yang sangat fantastis.
Aku berjalan menuju lift, aku menekan tombol dan lift bergerak naik menuju
lantai 23. Aku mengetuk-ngetukan kakiku secara perlahan dilantai, aku sangat
penasaran siapa yang mau membayar 20 juta untuk pengantaran sebuah dokumen.
Pintu lift terbuka, aku melangkah
keluar dari lift dan mencari apartemen bernomor 104. Tak butuh lama aku
berkeliling dan akhirnya aku enemukan pintu bernomor 104. Aku menekan bel yang
berada pada pintu dan menunggu seseorang keluar dari pintu itu. Aku kembali
mengetuk-ngetukan sepatuku ke lantai dan mencoba menekan sekali lagi bel dipintu
yang berada dihadapanku. Belum sempat aku menyentuh bel itu pintu terbuka.
“Masuk..” ujar seseorang yang ada
didalam.
Aku mengikuti perintahnya dan
masuk kedalam apartemen nya. Aku berdiri didepan pintu. melihat kesekeliling dan
nuansa mewah terlihat sangat jelas diapartemen ini, lampu krisatal yang
tergantung diruang tamu nampak sangat indah dengan cat berwarna peach yang
membuatnya tampak klasik. Pria dengan jambang diwajahnya menatapku. Ia
mengenakan kemeja coklat dengan jeans hitam. Sepertinya ia ingin tahu siapa aku
dan untuk apa aku datang.
“Bike messengger 113” Ujarku
padanya sambil memperlihatkan kartu identitasku padanya. Aku memberikan paket
itu padanya, ia lansung menerimanya.
“Trimakasih,” Ujarnya, suaranya
besar sesuai dengan tubuhnya yang tinggi dan berotot.
“Sama-sama” Aku beranjak pergi
darinya.
“Mau kopi dulu?” Katanya
menawariku.
“Tidak pak, terimakasih” Kataku,
ia membukakan pintu dan aku segera keluar dari apartemennya.
Aku kembali mengayuh sepedaku
melewati jalanan kota. Tiba-tiba ponselku bergetar, dengan cepat aku
mengentikan sepedaku dan membuka pesan yang masuk ke ponselku.
“Uang
sudah di transfer kerekeningmu, kau bisa mengeceknya”
Gwen benar-benar menepati
janjinya, aku harus segera mengecek untuk melihat saldo direkeningku. Dan
benar, saldoku bertambah sesuai yang dijanjikan oleh gwen, aku mulai menyukai
pekerjaan ini. Aku tersenyum lebar dan kembali menggoes sepedaku.
***
09.00 PM
Jam tanganku menunjukan pukul 9 malam, aku pulang kerumahku melepaskan
jaketku dan menggantungnya dan duduk
disofa ruang tengah, menikmati cemilan yang ada dimeja kemudian menyalakan
televisi. Ponselku bergetar, aku segera merogoh saku celanaku untuk mengambil
ponsel yang berada dalam sakuku. Ternyata dari Rena, ia adalah kekasihku sejak
3 tahun yang lalu, ia berwajah cantik dengan kulit seputih salju dan senyuman
yang manis yang memperlihatkan gingsulnya yang membuatku selalu mengingatnya
dan tak pernah bisa melupakannya, walau 1 detik.
“Ya..”
“Sayang, kau baik-baik saja?” tanyanya dibalik telefon
“Tentu, kenapa kau terdengar khawatir?” aku berbalik
bertanya.
“Kau bisa menemuiku sekarang di kafe starling?”
“Ya..aku segera kesana”jawabku mengiyakan permintaan nya, aku langsung
beranjak dari sofa mengambil jaket disamping ku duduk dan memakainya sembari berjalan
keluar.
Aku menggukankan mobilku untuk segera sampai di cafe, aku penasaran
dengan apa yang ingin dikatakannya, kenapa ia menanyai kabarku, padahal kemarin
aku menemuinya dan kita makan siang bersama.
09.15 PM
Aku memasuki kafe cocoamilk aku memandang sekitar, melihat orang-orang
yang duduk mencari-cari keberadaan rena, atau mungkin ia belum datang. Aku
melirik kekanan dan ternyata rena duduk menghadap belakang, aku mengenalinya
dari rambut hitamnya yang bergelombang dan baju coklatnya yang ia dulu pernah
pakai. Aku berjalan mendekatinya. Aku berusaha agar kedatanganku tidak
diketahui olehnya, aku berjalan pelan saat beberapa meter di belakangnya. Aku
langsung menutup matangnya dengan kedua tanganku.
“Derren..” ia melepaskan tanganku dari wajahnya yang menutupi mata.
“Apa yang ingin kau bicaraan?”
“Aku khawatir padamu” ucapnya manja, ia terlihat sangat cantik jika
wajahnya menunjukan sikap manja.
“Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku” kataku menenagkannya. Tapi
wajahnya masih saja tak tenang sebenarnya apa yang membuatnya khawatir? Tapi,
sudahlah. Yang penting aku sudah memastikan aku baik-baik saja dengan
menemuinya agar dia bisa tenang. Tak terasa waktu cepat berlalu. Kami menyudahi obrolan kami dan memutuskan pulang. Aku mengantarnya menggunakan mobilku,
karena ia kesini diantar oleh supirnya.
***
Komentar
Posting Komentar