Cerbung : The Last Time (Tak Ada Jalan Untuk Kembali) - Part 1
12 Maret 2017
11.57 PM
Suara dentuman musik keras masih
berdengung ditelingaku, aku duduk didepan bartender yang tengah membuat minuman
yang dipesan oleh wanita berkulit cokat yang duduk disampingku. Dia memakai
jaket kulit hitam dengan celana jeans robek-robek, ia terlihat cantik dengan
makeup tebal dan bulu matanya yang cukup tebal. Wajahnya tirus dengan bibir
tipis yang berlapis lipstik merah merona. Ia menoleh kearahku tampaknya ia menyadari
aku memandangi wajahnya. Sekarang giliran ia yang menatapku, tatapannya tajam.
“ada yang salah denganku?” tanya
wanita itu padaku.
Aku menggeleng,“maaf kalau kau
tak suka aku memandangimu”
“tidak, itu biasa terjadi,
kebanyakan mereka terpesona padaku” jawabnya tersenyum manis, “aku cuma
bercanda” sambungnya. Aku tersenyum padanya, ia meminum minumannya yang telah
selesai dibuat.
Kurasa ia cukup menyenangkan, tak
seperti penampilan luarnya yang terlihat urakan.
“kau pekerja kantoran?” tanyanya,
aku kaget tiba-tiba ia menanyai pertanyaan itu padaku.
“ya..” jawabku.
“terlihat kebosanan luar biasa
dari matamu, dan kehadiranmu disini membuat kau semakin terlihat ingin keluar
dari masalah yang membelitmu” ujarnya, aku bingung. Ia mengetahui semua
permasalahan yang tengah aku alami. Aku hanya mengangguk padanya.
“kau bisa sedikit keluar dari
masalahmu dengan pekerjaan baru & lingkungan baru” katanya memberi saran.
“maksudmu?” tayaku.
“aku punya pekerjaan untukmu”
ujarnya, aku menatapnya penuh keingin tahuan,“bike messengger” jawab wanita
itu.
Aku tertawa dengan tawarannya,
aku bersekolah hingga tingi dan aku telah mendapat pekerjaan dikantor besar. Hanya
karena sedikit kebosanan aku harus beralih profesi menjadi seseorang bike
messengger? Itu konyol, menjadi sipengantar surat dengan reiko yang sangat
tinggi dan pendapatan yang tak seberapa. Bahkan dengan mempertaruhkan nyawa
setiap hari dijalanan kota yang sangat padat, itu gila.
“20 juta” ujarnya tiba-tiba.
“ap..apa?” aku terkejut.
“bayarannya 20 juta untuk sekali
pengantaran”
“kau bercanda? Maksudku, itu
mustahil” kataku tak percaya.
“aku serius, klien kami memiliki
perusahaan besar dan sangat sukses diamerika, uang 20 juta tak masalah
untuknya” jelasnya.
“narkoba?” timpaku, aku tak yakin
itu pekerjaan halal. Tak mungkin dalam sekali pengantaran bisa mendapatkan 20
juta kalau tidak menjadi kurir narkoba.
“sama sekali bukan” elaknya, “kami
tak pernah mengirim barang haram itu. Tenang saja, hanya sebuah dokumen, tapi
dengan syarat kau tak boleh membukanya & menjaganya hingga sampai ke klien
kami”
“ok.. deal, aku mau.” Kataku
penuh semangat, aku sangat tertarik dengan pekerjaan yang ia tawarkan. Ia
tersenyum kecil. “Oh ya, namamu?” kataku.
“gwen,” ia mengukurkan tangan.
“derren” aku menjabat tangannya.
Sebuah tawaran menggiurkan, hanya sekali pengiriman aku bisa mendapatkan 20 juta.
Itu mengagumkan.
Ia mengetukan ponselnya
keponselku yang tergeletak dimeja, ponselku menyala dan terlihat foto gwen,“itu
nomorku”. Ujarnya menghabiskan minumannya & beranjak pergi.
***

Komentar
Posting Komentar